MAKALAH PENG. TEKNOLOGI SISTEM CERDAS “SISTEM CERDAS PENDEKTEKSI BANJIR”
MAKALAH
PENG. TEKNOLOGI SISTEM CERDAS
“SISTEM
CERDAS PENDEKTEKSI BANJIR”
DISUSUN
OLEH :
ARIEL KHOIRI PRAKOSA(10117942)
ANJAR
EFENDI (10117807)
HABIB
ZAIN ANIS ALATTAS (12117603)
GALANG
YOGI PRASETYO ( )
YOHANES
KRISTIANTO (16117291 )
3KA18
FAKULTAS
ILMU KOMPUTER DAN TEKNOLOGI INFORMASI
UNIVERSITAS
GUNADARMA
2020
KATA
PENGANTAR
Puji
syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena berkat rahmat dan
hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “SISTEM CERDAS
PENDEKTESI BANJIR” Semoga makalah ini dapat dipergunakan sebagai salah satu
acuan, petunjuk maupun pedoman dan juga berguna untuk menambah pengetahuan bagi
para pembaca.
Makalah
ini kami susun dengan segala kemampuan kami dan semaksimal mungkin. Namun, kami
menyadiri bahwa dalam penyusunan makalah ini tentu tidaklah sempurna dan masih
banyak kesalahan serta kekurangan. Maka dari itu kami sebagai penyusun makalah
ini mohon kritik, saran dan pesan dari semua yang membaca makalah ini.
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Banjir merupakan suatu
masalah yang sampai saat masih perlu adanya
penanganan khusus dari berbagai pihak, baik dari
pemerintah maupun
masyarakat. Banjir bukan masalah yang ringan.
Banjir dapat terjadi akibat
naiknya permukaan air lantaran curah hujan
yang diatas normal, perubahan suhu, tanggul/
bendungan yang bobol,
pencairan salju yang cepat, terhambatnya aliran air
di tempat lain (Ligal,2008). Sedikitnya ada lima faktor penting penyebab banjir
di Indonesia yaitu
faktor hujan, faktor hancurnya retensi Daerah Aliran
Sungai (DAS), faktor
kesalahan perencanaan pembangunan alur sungai,
faktor pendangkalan sungai
dan faktor kesalahan tata wilayah dan pembangunan
sarana dan prasarana.
Maka
dari itu kami mempunyai ide tentang “sistem cerdas pendeteksi cerdas” karena
setiap bulan Oktober-Maret sering terjadinya hujan di seluruh daerah di
Indonesia yang dapat menyebabkan banjir.
Daerah-Daerah
yang masih tertinggal masalah teknologi yang dapat menyebab kurangn tersampainya
informasi akan terjadinya Banjir dan lambatnya proses penyampaian informasi ke
daerah-daerah plosok.
1.3 Tujuan
Adapun tujuan dari pembuatan sistem pakar ini,
yaitu :
1. Mengembangkan
aplikasi yang sudah ada menjadi berguna untuk masyrakat.
2. Untuk
memperingati masyarakat akan adanya banjir.
3. Memperkenalkan
sistem di kalangan masyarakat Indonesia.
BAB
II
LANDASAN
TEORI
2.1 Sistem
Sistem adalah sekelompok komponen dan elemen yang digabungkan
menjadi satu untuk mencapai tujuan tertentu. Sistem berasal dari bahasa Latin (systēma) dan bahasa Yunani (sustēma) adalah
suatu kesatuan yang terdiri komponen atau elemen yang dihubungkan bersama untuk memudahkan
aliran informasi, materi atau energi untuk mencapai suatu tujuan.
Pengertian sistem menurut Indrajit (2001: 2) mengemukakan
bahwa sistem mengandung arti kumpulan-kumpulan dari komponen-komponen yang
dimiliki unsur keterkaitan antara satu dengan lainnya.
Pengertian sistem menurut Jogianto (2005: 2) mengemukakan
bahwa sistem adalah kumpulan dari elemen-elemen yang berinteraksi untuk
mencapai suatu tujuan tertentu. Sistem ini menggambarkan suatu
kejadian-kejadian dan kesatuan yang nyata adalah suatu objek nyata seperti
tempat, benda, dan orang-orang yang betul-betul ada dan terjadi.
Jadi dapat disimpulkan bahwa sistem merupakan kumpulan
komponen atau elemen yang saling terhubung untuk melakukan suatu kegiatan.
System Development Life Cycle (SDLC) adalah siklus hidup pengembangan system. Dalam rekayasa
system dan rekayasa perangkat lunak,
SDLC adalah suatu proses pembuatan dan pengubahan sistem serta model
dan metodologi yang digunakan untuk mengembangkan sistem-sistem tersebut
A.Perencanaan Sistem (Systems
Planning)
Lebih menekankan pada aspek studi kelayakan pengembangan
sistem (feasibility study). Aktivitas-aktivitas yang ada meliputi :
• Pembentukan dan konsolidasi tim pengembang.
• Mendefinisikan tujuan dan ruang lingkup pengembangan.
• Mengidentifikasi apakah masalah-masalah yang ada bisa
diselesaikan melalui pengembangan
sistem.
• Menentukan dan evaluasi strategi yang akan digunakan dalam
pengembangan sistem.
• Penentuan prioritas teknologi dan pemilihan aplikasi.
B. Analisis Sistem (Systems
Analysis)
Analisa sistem adalah tahap di mana dilakukan beberapa
aktivitas berikut:
• Melakukan studi literatur untuk menemukan suatu kasus yang
bisa ditangani oleh sistem.
• Brainstorming dalam tim pengembang mengenai kasus mana yang
paling tepat dimodelkan dengan sistem.
• Mengklasifikasikan masalah, peluang, dan solusi yang
mungkin diterapkan untuk kasus tersebut.
• Analisa kebutuhan pada sistem dan membuat batasan sistem.
• Mendefinisikan kebutuhan sistem.
C. Perancangan Sistem (Systems
Design)
Pada tahap ini, features dan operasi-operasi pada sistem
dideskripsikan secara detail. Aktivitas-aktivitas yang dilakukan adalah:
• Menganalisa interaksi obyek dan fungsi pada sistem.
• Menganalisa data dan membuat skema database.
• Merancang user interface.
D. Implementasi Sistem (Systems
Implementation)
Tahap berikutnya adalah implementasi yaitu mengimplementasikan
rancangan dari tahap-tahap sebelumnya dan melakukan uji coba.
Dalam implementasi, dilakukan aktivitas-aktivitas sebagai
berikut:
• Pembuatan database sesuai skema rancangan.
• Pembuatan aplikasi berdasarkan desain sistem.
• Pengujian dan perbaikan aplikasi (debugging).
E. Pemeliharaan Sistem (Systems
Maintenance)
Dilakukan oleh admin yang ditunjuk untuk menjaga sistem tetap
mampu beroperasi secara benar melalui kemampuan sistem dalam mengadaptasikan
diri sesuai dengan kebutuhan.
2.3 Data Flow Diagram (DFD)
Diagram Alir Data
(DAD) adalah suatu diagram yang
menggunakan notasi-notasi untuk menggambarkan arus dari data pada suatu sistem
atau menjelaskan proses kerja suatu sistem, yang penggunaannya sangat membantu
untuk memahami sistem secara logika, tersruktur dan jelas
·
User
/ Terminator: Kesatuan diluar sistem (external
entity) yang memberikan input ke sistem atau menerima output dari sistem berupa
orang, organisasi, atau sistem lain
·
Process: Aktivitas yang mengolah input menjadi output.
·
Data
Store: Penyimpanan data pada database,
biasanya berupa tabel.
·
Data
Flow: Aliran data pada sistem (antar
proses, antara terminator & proses, serta antara proses & data store).
Didalam DFD terdapat 3 level, yaitu
:
1.
Diagram
Konteks : menggambarkan satu lingkaran
besar yang dapat mewakili seluruh proses yang terdapat di dalam suatu sistem.
Merupakan tingkatan tertinggi dalam DFD dan biasanya diberi nomor 0 (nol).
Semua entitas eksternal yang ditunjukkan pada diagram konteks berikut aliran-aliran
data utama menuju dan dari sistem. Diagram ini sama sekali tidak memuat
penyimpanan data dan tampak sederhana untuk diciptakan.
2.
Diagram
Nol (diagram level-1) : merupakan satu lingkaran besar
yang mewakili lingkaran-lingkaran kecil yang ada di dalamnya. Merupakan pemecahan dari diagram
Konteks ke diagram Nol. di dalam diagram ini memuat penyimpanan data.
3.
Diagram
Rinci : merupakan diagram yang
menguraikan proses apa yang ada dalam diagram Nol.
2.3.1
Fungsi DFD
Fungsi
dari Data Flow Diagram adalah :
·
Data Flow Diagram (DFD) adalah alat
pembuatan model yang memungkinkan profesional sistem untuk menggambarkan sistem
sebagai suatu jaringan proses fungsional yang dihubungkan satu sama lain dengan
alur data, baik secara manual maupun komputerisasi.
·
DFD ini adalah salah satu alat
pembuatan model yang sering digunakan, khususnya bila fungsi-fungsi sistem
merupakan bagian yang lebih penting dan kompleks dari pada data yang
dimanipulasi oleh sistem. Dengan kata lain, DFD adalah alat pembuatan model
yang memberikan penekanan hanya pada fungsi sistem.
·
DFD ini merupakan alat perancangan
sistem yang berorientasi pada alur data dengan konsep dekomposisi dapat
digunakan untuk penggambaran analisa maupun rancangan sistem yang mudah
dikomunikasikan oleh profesional sistem kepada pemakai maupun pembuat program.
2.4 ERD
ERD (Entity Relationship Diagram) adalah suatu model untuk
menjelaskan hubungan antar data dalam basis data berdasarkan objek-objek dasar
data yang mempunyai hubungan antar relasi. ERD untuk memodelkan struktur data dan hubungan antar data,
untuk menggambarkannya digunakan beberapa notasi dan simbol.
Komponen penyusun ERD:
2.4.1Entitas
Kumpulan objek yang dapat
diidentifikasikan secara unik atau saling berbeda. Simbol dari entitas biasanya
digambarkan dengan persegi panjang. Selain itu, ada juga “Entitas Lemah” yang
dilambangkan dengan gambar persegi panjang kecil di dalam persegi panjang yang
lebih besar. Disebut entitas lemah karena harus berhubungan langsung dengan
entitas lain sebab dia tidak dapat teridentifikasi secara unik.
2.4.2
Atribut
Setiap entitas pasti mempunyai
elemen yang disebut atribut yang berfungsi untuk mendeskripsikan karakteristik
dari entitas tersebut. Atribut kunci merupakan hal pembeda atribut dengan
entitas. Gambar atribut diwakili oleh simbol elips dan terbagi menjadi
beberapa jenis:
1.
Atribut kunci (key): atribut
yang digunakan untuk menentukan entitas secara unik. Contoh: NPWP, NIM (Nomor
Induk Mahasiswa).
2.
Atribut simpel: atribut bernilai
tunggal yang tidak dapat dipecah lagi (atomic). Contoh: Alamat, tahun
terbit buku, nama penerbit.
3.
Atribut multinilai (multivalue):
atribut yang memiliki sekelompok nilai untuk setiap entitas instan. Contoh:
nama beberapa pengarang dari sebuah buku pelajaran.
4.
Atribut gabungan (composite):
atribut yang terdiri dari beberapa atribut yang lebih kecil dengan arti
tertentu. Contoh: nama lengkap yang terbagi menjadi nama depan, tengah, dan
belakang.
5.
Atribut derivatif: atribut yang
dihasilkan dari atribut lain dan tidak wajib ditulis dalam diagram ER. Contoh:
usia, kelas, selisih harga.
2.4.3
Relasi
Hubungan antara sejumlah entitas
yang berasal dari himpunan entitas yang berbeda. Gambar relasi diwakili oleh
simbol belah ketupat. Relasi juga terbagi menjadi beberapa jenis:
1.
One to one: setiap entitas hanya
bisa mempunyai relasi dengan satu entitas lain. Contoh: siswa dengan nomor
induk siswa
2.
One to many: hubungan antara satu
entitas dengan beberapa entitas dan sebaliknya. Contoh: guru dengan murid dan
sebaliknya.
3.
Many to many: setiap entitas bisa
mempunyai relasi dengan entitas lain, dan sebaliknya. Contoh: siswa dan
ekstrakurikuler.
2.4.4
Garis
Garis yang menghubungkan antar
atribut untuk menunjukkan hubungan entitas pada diagram ER.
BAB
III
PEMBAHASAN
1.1
Pengertian Banjir
Banjir merupakan fenomena alam yang biasa
terjadi di suatu kawasan yang banyak dialiri oleh aliran sungai. Secara
sederhana banjir dapat didefinisikan sebagainya hadirnya air di suatu kawasan
luas sehingga menutupi permukaan bumi kawasan tersebut. Dalam cakupan
pembicaraan yang luas, kita bisa melihat banjir sebagai suatu bagian dari
siklus hidrologi, yaitu pada bagian air di permukaan Bumi yang bergerak ke
laut. Dalam siklus hidrologi kita dapat melihat bahwa volume air yang mengalir
di permukaan Bumi dominan ditentukan
oleh tingkat curah hujan, dan tingkat peresapan air ke dalam tanah. Aliran
Permukaan = Curah Hujan – (Resapan ke dalam tanah + Penguapan ke udara) Air
hujan sampai di permukaan Bumi dan mengalir di permukaan Bumi, bergerak menuju
ke laut dengan membentuk alur-alur sungai. Alur-alur sungai ini di mulai di
daerah yang tertinggi di suatu kawasan, bisa daerah pegunungan, gunung atau
perbukitan, dan berakhir di tepi pantai ketika aliran air masuk ke laut. Secara
sederhana, segmen aliran sungai itu dapat kita bedakan menjadi daerah hulu,
tengah dan hilir.
1.2 Jenis
Banjir
Terdapat berbagai macam
banjir yang disebabkan oleh beberapa hal, diantaranya :
·
Banjir air
Banjir yang
satu ini adalah banjir yang sudah umum. Penyebab banjir ini adalah meluapnya
air sungai, danau, atau selokan sehingga air akan meluber lalu menggenangi
daratan. Umumnya banjir seperti ini disebabkan oleh hujan yang turun
terus-menerus sehingga sungai atau danau tidak mampu lagi menampung air.
·
Banjir “Cileunang”
Jenis
banjir yang satu ini hampir sama dengan banjir air. Namun banjir cileunang ini
disebakan oleh hujan yang sangat deras dengan debit air yang sangat banyak.
Banjir akhirnya terjadi karena air-air hujan yang melimpah ini tidak bisa
segera mengalir melalui saluran atau selokan di sekitar rumah warga. Jika
banjir air dapat terjadi dalam waktu yang cukup lama, maka banjir cileunang
adalah banjir dadakan (langsung terjadi saat hujan tiba).
·
Banjir bandang
Tidak
hanya banjir dengan materi air, tetapi banjir yang satu ini juga mengangkut
material air berupa lumpur. Banjir seperti ini jelas lebih berbahaya daripada
banjir air karena seseorang tidak akan mampu berenang ditengah-tengah banjir
seperti ini untuk menyelamatkan diri. Banjir bandang mampu menghanyutkan
apapun, karena itu daya rusaknya sangat tinggi. Banjir ini biasa terjadi di
area dekat pegunungan, dimana tanah pegunungan seolah longsor karena air hujan
lalu ikut terbawa air ke daratan yang lebih rendah. Biasanya banjir bandang ini
akan menghanyutkan sejumlah pohon-pohon hutan atau batu-batu berukuran besar.
Material-material ini tentu dapat merusak pemukiman warga yang berada di
wilayah sekitar pegunungan.
3.3
Penyebab Terjadinya Banjir
1.
Saluran Air yang Buruk Pada kota-kota
besar seperti Jakarta, Bandung, dan lainnya yang kerap terjadi biasanya
dikarenakan saluran air yang mengalirkan air hujan dari jalan ke sungai sudah
tidak terawat. Banyak saluran air di perkotaan yang tertutup sampah, memiliki
ukuran yang kecil, bahkan tertutup beton bangunan sehingga fungsinya sebagai
saluran air tidak dapat berjalan sebagaimana mestinya lalu kemudian terjadi
genangan air di jalanan yang menyebabkan banjir.
2.
Daerah Resapan Air yang Kurang Selain
karena saluran air yang buruk ternyata daerah resapan air yang kurang juga
mempengaruhi suatu wilayah dapat terjadi banjir. Daerah resapan air merupakan
suatu daerah yang banyak ditanami pohon atau yang memiliki danau yang berfungsi
untuk menampung atau menyerap air ke dalam tanah dan disimpan sebagai cadangan
air tanah. Akan tetapi karena di daerah perkotaan seiring meningkatnya bangunan
yang dibangun sehingga menggeser fungsi lahan hijau sebagai resapan air menjadi
bangunan beton yang tentunya akan menghambat air untuk masuk ke dalam tanah.
Sehingga terjadi genangan air yang selanjutnya terjadi banjir.
3.
Penebangan Pohon Secara Liar Pohon
memiliki fungsi untuk mempertahankan suatu kontur tanah untuk tetap pada
posisinya sehingga tidak terjadi longsor, selain itu pohon juga memiliki fungsi
untuk menyerap air sebagaimana telah disebutkan pada poin sebelumnya. Jika pada
wilayah yang seharusnya memiliki pohon yang rimbun seperti daerah pegunungan
ternyata pohonnya ditebangi secara liar, maka sudah pasti jika terjadi hujan
pada daerah tersebut air hujannya tidak akan diserap ke dalam tanah tetapi akan
langsung mengalir ke daerah rendah contohnya daerah hilir atau perkotaan dan
perdesaan yang menyebabkan banjir.
4.
Sungai yang Tidak Terawat Sungai sebagai
media mengalirnya air yang tertampung dari hujan dan saluran air menuju ke laut
lepas tentunya sangat memegang peranan penting pada terjadi atau tidaknya
banjir di suatu daerah. Jika sungainya rusak dan tercemar tentu fungsinya
sebagai aliran air menuju ke laut akan terganggu dan sudah dipastikan akan
terjadi banjir. Biasanya kerusakan yang terjadi di sungai yaitu endapan tanah
atau sedimentasi yang tinggi, sampah yang dibuang ke sungai sehingga terjadi
pendangkalan, serta fungsi sempadan sungai atau bantaran sungai yang
disalahgunakan menjadi pemukiman warga.
5.
Kesadaran Masyarakat yang Kurang Baik
Sikap masyarakat yang kurang sadar terhadap lingkungan juga ternyata sangat
berpengaruh pada resiko terjadinya banjir. Sikap masyarakat yang kurang sadar
mengenai membuang sampah agar pada tempatnya, menjaga keasrian lingkungan, dan
pentingnya menanami pohon menjadi faktor yang sangat penting untuk terjaganya
lingkungan dan agar terhindar dari bencana banjir. Selain dapat menghindarkan banjir, sikap
peduli lingkungan juga dapat menyehatkan dan tentunya akan meningkatkan taraf
hidup masyaraktnya. Dari kelima faktor di atas memang nampaknya kesadaran dari
masyarakat untuk menjaga lingkungan sekitar sangat penting agar dapat terhindar
dari banjir. Sangat percuma atau bahkan sia-sia jika program pemerintah dalam
menanggulangi banjir seperti membangun kanal banjir, memugar saluran air,
mengeruk sungai dari sedimentasi, dan yang lainnya jik atidak didukung oleh
kesadaran warganya terhadap menjaga lingkungan.
1.3 Metodologi
Perancangan Sistem
Perancangan
sistem dapat diartikan sebagai sebuah proses merancang atau mendesain suatu
sistem yang baik, isinya adalah langkah-langkah yang dikerjakan oleh sistem
dalam proses pengolahan data dan proses prosedur untuk mendukung operasi
sistem.
Dalam
perancangan sistem pakar ini, metodologi yang digunakan adalah ERD
Desain sistem atau
perancangan sistem adalah mendesain suatu sistem dengan baik, yang isinya
berupa langkah-langkah operasi dalam proses pengolahan data dan prosedur untuk
mendukung oprasi sistem. Perancangan ini terdiri dari diagram blok serta fungsi
dan fitur.
3.5.1 Fungsi
dan Fitur
Sistem pakar Pendeteksi Banjir berfungsi untuk membuat user
mengetahui tingkatan tanda-tanda banjir agar user dapat mengambil tindakan yang
tepat dan tidak menyepelakan jika terjadi gejala Banjir. Fitur yang tersedia
adalah beberapa peringatan-peringatan yang muncul dan nantinya akan menampilkan
tingkatan banjir yang akan terjadi.
3.5.2 Output
Hasil dari sistem peringatan
banjir ini adalah tingkatan yang menggambarkan keadaan yang sedang terjadi,
apakah memiliki potensi tinggi atau tidak dan dengan hasil ini diharapkan
masyarakat dapat dengan baik dalam menanggulangi kemungkinan untuk terjadi
banjir
BAB IV
KESIMPULAN
Pembuatan
alarm pemberitahuan banjir ini sangat bermanfaat dan berguna bagi masyarakat,
karena saat musim penghujan dan pada saat terjadi banjir masyarakat dapat
mengetahui akan datangnya banjir, sehingga mengurangi dampak bahaya banjir dan
mencegah akan adanya korban jiwa karena bencana banjir.
DAFTAR
PUSTAKA
https://www.dewaweb.com/blog/entity-relationship-diagram/ diakses
pada 16 Januari 2020 pukul 12:20 (GMT + 7).
http://bungaparamithaalleny.blogspot.com/2016/10/jurnal-sistem-cerdas.html,diakses
pada 16 Januari 2020 pukul 12:48 (GMT + 7).
https://rizkypermanap.blogspot.com/2017/11/pengertian-dan-tahapan-tahapan-sdlc.html diakses pada 21 Januari 2020 pukul 13:21 (GMT +
7).
https://www.dictio.id/t/apa-yang-dimaksud-dengan-systems-development-life-cycle/15120 diakses pada 21 Januari 2020 pukul 13:22 (GMT +
7).
https://docplayer.info/47792239-Bab-ii-landasan-teori-awal-bencana-banjir-berbasis-android-membahas-tentang.html diakses
pada 21 Januari 2020 pukul 13:30 (GMT + 7).
Andri
Kristanto. (2008 :61). Data Flow Diagram.
ndrajani.
(2011). Data Flow Diagram, PT. Elex Media Komputindo, Jakarta.
Comments
Post a Comment